«

»

Mar 28

2030, Bila Pacu Produktivitas Indonesia Jadi Negara Maju

JAKARTA, – Indonesia bisa menjadi negara berpendapatan tinggi dengan PDB per kapita di atas US$ 12.475 pada 2030, asalkan konsisten melaksanakan program jangka panjang untuk memacu produktivitas bangsa dan kualitas SDM yang menguasai teknologi.

Pembangunan infrastruktur yang gencar, persatuan, dan stabilitas politik akan mendukung transformasi NKRI menjadi kuat dalam 12 tahun mendatang, sehingga terhindar dari ancaman menjadi negara gagal atau bubar.

Gemerlap lampu malam diseputaran Monas Jakarta. (Dok.Istimewa)


Sebaliknya, jika gagal meningkatkan produktivitas dan kualitas SDM di bidang teknologi, Indonesia terancam menjadi negara yang terperangkap dalam jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Middle income trap adalah sebuah situasi yang dihadapi sebuah negara saat negara tersebut tidak mampu meningkatkan perekonomiannya menuju keranjang negara-negara berpendapatan tinggi (high income countries).

Bank dunia mengklasifikasikan negara berdasarkan pendapatan per kapitanya, yaitu negara berpendapatan rendah (pendapatan per kapita di bawah US$ 1.045), negara berpendapatan menengah ke bawah (pendapatan per kapita US$ 1.045-4.125), negara berpendapatan menegah ke atas (pendapatan per kapita US$ 4.125-12.746), dan negara berpendapatan tinggi (pendapatan per kapita di atas US$ 12.746). Dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita US$ 3.570, Indonesia saat ini berada di level negara berpendapatan menengah ke bawah (lower middle income country).

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual mengatakan, sejumlah negara, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan memiliki blueprint yang jelas mengenai arah pembangunan dan ekonomi dalam jangka panjang, serta konsisten menjalankannya meski ada pergantian pemerintahan.

Pendapatan Tinggi

Ketiga negara tersebut sudah berhasil masuk kelompok negara perpendapatan tinggi (high-income country), dengan masing-masing memiliki produk domestik bruto (PDB) per kapita US$ 38.900, US$ 27.538, dan US$ 22.561 pada 2016. Sementara itu, berdasarkan data Bank Dunia, Indonesia masih level lower middle income country dengan PDB per kapita US$ 3.570, bersama antara lain Filipina sebesar US$ 2.951, Vietnam US$ 2.170, dan India US$ 1.709.

“Pada era 1970-an, PDB per kapita Indonesia dengan Korea Selatan tidak terlalu jauh, yakni sekitar US$ 70 untuk Indonesia dan sekitar US$ 120 untuk Korea Selatan. Namun, Korea Selatan memiliki arah yang jelas untuk berpacu menjadi negara high industry, sehingga sekarang melesat,” kata dia, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sementara itu, Tiongkok menjelma menjadi kekuatan ekonomi terbesar nomor dua setelah Amerika Serikat (AS), setelah memberlakukan ekonomi pasar sejak 1978 dan membuka diri untuk investasi asing mulai era 1980-an, sehingga ekonominya selama satu dekade (2000-2010) rata-rata tumbuh 11,5% per tahun.

Pencapaian negara berpenduduk terbesar di dunia (1,4 miliar jiwa) tersebut mencapai dua kali lipat lebih dibanding Indonesia yang rata-rata tumbuh 5,2% pada periode sama, dengan penduduk 261 juta. Negara produsen manufaktur terbesar itu sudah naik ke level upper middle income country dengan PDB per kapita US$ 8.123, bersama Malaysia sebesar US$ 9.508, Thailand US$ 5.910, dan Suriname US$ 5.871.

Pengamat ekonomi Eric Sugandi menjelaskan, Indonesia juga bisa bergerak maju jika pembangunannya terarah dan konsisten. “Pembangunan infrastruktur yang cukup gencar saat ini dapat menjadi sarana pendukung agar Indonesia menjadi kuat tahun 2030, asalkan dilanjutkan dengan pembangunan di berbagai lini ,” ucap dia.

Dapat Digenjot

Pada kesempatan terpisah, mantan Menko bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengatakan sebelumnya, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa digenjot hingga 10% per tahun. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga akan makin menarik investor asing untuk berinvestasi di sektor riil. Tahun ini, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi RI bisa naik menjadi 5,3%. Sedangkan realisasi tahun lalu sebesar 5,07%. Dalam APBN 2018, asumsi pertumbuhan ekonomi dipatok 5,4%.

David memaparkan, di samping Bank Dunia, banyak lembaga riset internasional memperkirakan perekonomian Indonesia tahun 2030 tumbuh tinggi, misalnya Mckenzie, PricewaterhouseCoopers, dan Boston Consulting Group. Pada 2017 saja, lanjut dia, PDB Indonesia sudah naik level, masuk kelompok US$ 1 triliun.

“PDB Indonesia tahun 2030 sudah di kisaran US$ 5-6 triliun. Untuk mencapai hal itu, memang perlu ada langkah dan kebijakan di berbagai bidang yang tetap jalan (berkesinambungan), meski rezim pemerintahan berganti. Untuk itu perlu ada blueprint mengenai pembangunan ekonomi yang terarah. Pada masa Orde Baru ada Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN),” jelasnya.

Di sisi lain, David mengingatkan pula, upaya Indonesia untuk menjadi negara yang kuat pada 2030 dengan PDB per kapita di atas US$ 12.475 tidak mudah. Dinamika perpolitikan di Indonesia ikut memengaruhi mampu dan tidaknya RI masuk kelas negara berpendapatan tinggi tersebut.

“Faktor politik ini menjadi risiko yang perlu dicermati. Keberlanjutan suatu program pemerintah di bidang perekonomian juga kerap dipengaruhi oleh faktor politik. Jadi memang perlu ada kepastian, blueprint arah pembangunan, dan jaminan hukum,” ungkapnya.(SP/Ist)

Sumber :suarapembaruan

Tinggalkan Balasan

cinta-alam-hijau-e1444135113833