«

»

Agu 30

Dirjen Hubla Janji Beberkan Mafia Sektor Kelautan

JAKARTA, – Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Dirjen Hubla Kemhub) nonaktif, Antonius Tonny Budiono mengakui ada banyak mafia yang ‘bermain’ di sektor kelautan. Tonny yang telah menjadi tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi perijinan dan proyek-proyek di lingkungan Ditjen Hubla pun berjanji akan membeberkan mengenai mafia ini.

“Nanti deh kalau sudah masuk perkara ya,” kata Tonny usai diperiksa penyidik di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (29/8) sore.

Tonny mengaku tidak dapat mengungkap permainan mafia-mafia tersebut karena sedang proses penyidikan. Tonny khawatir akan menimbulkan dampak hukum lain jika diungkap saat ini. “Nanti bisa jadi pencemaran nama baik. Saya nggak mau,” katanya.

Tonny pasang badan saat disinggung nama Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi sebagai salah satu pihak yang akan dibeberkannya terkait mafia sektor laut. Tonny mengklaim Budi Karya telah bekerja sesuai dengan tugas-tugasnya. “Pak Menteri orang baik,” kata Tonny.

Terkait mafia di sektor kelautan ini menjadi salah satu materi yang dicecar penyidik KPK kepada Tonny. Tonny pun mengakui telah membeberkan mengenai mafia ini kepada penyidik KPK. “Tadikan saya diperiksa sebagai saksi,” kata Tonny.

Tonny diketahui ditangkap tim Satgas KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Mess Perwira Ditjen Hubla pada Rabu (23/8) malam. Saat menangkap Tonny, tim Satgas KPK juga menyita 33 tas yang berisi uang senilai Rp 18,9 miliar dengan pecahan sejumlah mata uang. Tak hanya itu, tim Satgas KPK juga menyita empat kartu ATM dari tiga bank penerbit berbeda. Salah satunya masih ada sisa saldo sebanyak Rp 1,174 miliar.

Tonny diduga menerima suap dari sejumlah pihak terkait perijinan dan proyek-proyek di lingkungan Ditjen Hubla. Salah satunya, suap itu diterima Tonny dari Komisaris PT Adhi Guna Keruktama, Adiputra Kurniawan terkait pengerjaan pengerukan pasir di pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, Jawa Tengah. Tak hanya Tonny, KPK juga menangkap Adiputra di apartemennya di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat pada Kamis (24/8) sore.

Setelah proses pemeriksaan, KPK menetapkan Tonny sebagai tersangka penerima suap dan gratifikasi dengan dijerat Pasal 12 huruf a dan Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Sementara Adiputra yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (*/SP/Ist)

Tinggalkan Balasan

cinta-alam-hijau-e1444135113833