«

»

Okt 20

Edarkan Sabu, Bripka RE Divonis 5 Tahun 7 Bulan

SAMPANG, – Brigadir Kepala (Bripka) RE (35) warga Dusun Sembung, Desa Teja Timur, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, oknum anggota di Kepolisian Sektor (Polsek) Ketapang di pesisir utara masuk jajaran Kepolisian Resort (Polres) Sampang, Madura, divonis hukuman penjara selama lima tahun tujuh bulan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Sampang yang diketuai Purnomo, Kamis (19/10).

Dia dinyatakan terbukti bersalah secara sah dan meyakhinkan mengedarkan narkotika jenis sabu-sabu dengan sisa barang bukti 15 poket atau seberat empat gram, hand phone, serta alat hisap bong itu juga diwajibkan membayar denda Rp 1 miliar subsider dua bulan kurungan.

“Terdakwa terbukti secara sah dan meyakhinkan, sebagai oknum anggota Polisi, yang seharusnya melakukan upaya pencegahan, justru bertindak sebaliknya. Oleh sebab itu, baik Bripka RE maupun oknum anggota wartawan, dan oknum tokoh warga masyarakat itu, ketiga terdakwa dihukum sama, yakni lima tahun tujuh bulan dan denda Rp 1 miliar subsider dua bulan kurungan,” tandas ketua majelis hakim PN Sampang, Purnomo di akhir persidangan, Kamis siang. Salah satunya alasan yang meringankan para terdakwa adalah, bertindak sopan selama persidangan, berterus-terang dan tidak pernah dihukum.

Sebagaimana amar putusan majelis hakim sebelumnya, diuraikan, bahwa vonis hukuman penjara yang sama beratnya juga dijatuhkan kepada dua orang rekan Bripka RE, yakni oknum wartawan berita online Sigap 88, JS (41) warga Jalan Sersan Mesrul, Pamekasan dan FH (33) warga Dusun Ruberuh, Desa Gunung Maddah, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang. Namun demikian, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Sampang, Arman berencana akan mengajukan banding karena vonis majelis hakim dinilainya jauh dari tuntutannya selama delapan tahun penjara bagi Bripka RE dan masing-nasing enam tahun penjara bagi JS dan FH.

“Kalau majelis hakim sudah menyatakan ketiga terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 114 ayat 2 jo Pasal 132 ayat 1 UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, maka vonis yang mesti dijatuhkan majelis hakim kalaupun lebih ringan, ya jangan terlalu banyak berkurangnya,” ujar JPU. Menurut dia, Bripka RE dan oknum wartawan media online Sigap 88 itu seharusnya dihukum berat karena mereka adalah oknum petugas yang seharusnya melakukan pencegahan peredaran narkoba, bukan malan menjadi pengedar. Demikian juga dengan FH yang berstatus tokoh agama di daerahnya, mestinya hukumannya juga diperberat, tambahnya.

Sementara itu Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Sampang, Fadhilah Budiono secara terpisah menyatakan, bahwa Kabupaten Sampang, masuk daerah merah peredaran narkoba dibanding Sumenep, Bangkalan dan Pamekasan. Peredaran narkoba terbukti sudah masuk ke pusat-pusat pendidikan keagamaan tradisional dengan alasan agar kuat melakukan doa di tengah malam. Lebih dari itu hampir 50 persen kepala desa (klebun) di Kabupaten Sampang terlibat peredaran narkonba.

“Peredarannya memang diselubungkan sebagai obat kuat, sehingga para kepala desa memiliki daya tahan tubuh yang tak kenal lelah. Begitu juga peredaran narkoba sudah masuk ke lembaga pendidikan keagamaan tradisional dengan alasan yang sama, sebagai obat kuat (doping) agar tahan berlama-lama bersalawat, berdzikir dan salat tengah malam hingga dini hari. Ini kan sudah melenceng,” tandasnya. Karena itu, penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Sampang sudah masuk lampu merah, imbuhnya. (*/SP/Ist)

Sumber :suarapembaruan

Tinggalkan Balasan

cinta-alam-hijau-e1444135113833