«

»

Mar 28

Kembali Terjadi, Profesi Wartawan Banten Dicederai Oknum Wartawan Online

BANTEN, – Kembali terjadi, oknum wartawan dari sebuah media online lokal di Banten dituding tidak profesionalisme dan melanggar kode etik tugas wartawan. Pasalnya, Oknum wartawan berinisial RH alias S mengUpload sebuah berita Isu tidak sedap terhadap DH, salah satu pejabat Eselon II di lingkungan Pemprov Banten yang dikabarkan dilabrak oleh istrinya di sebuah rumah makan di Sari Kuring beberapa waktu lalu.

Kejadian itu, katanya DH kepergok sedang menjalin hubungan asmara dengan staf wanitanya. “Berita itu adalah tidak benar alias fitnah, karena saya sedang ada di rumah bersama kelurga pada waktu itu,” Ujar DH, pada wartawan, Senin (26/3/2018) kemarin.

DH juga menegaskan, bahwa itu adalah isu dan Hoax, dan DH sedang mencari tahu siapa dalang yang menyebarkan bohong itu. “Itu tidak benar yang disebut salah satu media online bahwa ada hubungan asmara antara DH dan DL ini sudah lama berjalan, dan isu Hoax itu saya senyumin aja,”jelasnya.

DH juga tidak akan tinggal diam atas persoalan pencemaran nama baik tersebut. “Kami akan mencari tau siapa dalang dari sumber yang memfitnah saya itu. itu tidak benar, dan hal ini telah membuat gaduh di lingkungan instansi dan keluarga saya, ini sudah pencemaran nama baik saya,”terangnya.

DH juga menyayangkan atas ketidak profesionalisme wartawan dalam menulis sebuah berita. Pasalnya, yang menanyakan RZI yang mengaku wartawan melalui chat Wa, tetapi yang memberitakan media lain dan wartawan yang menulisnya berinisial RH alias SMYG. “Coba itu’kan aneh, ko bisa begitu tugas mulia profesi wartawan yang saya anggap orang terpelajar dan berpendidikan,” ungkapnya.

Hal ini juga disampaikan oleh sahabat dekat DH, Agus Hidayat, bahwa istri DH tidak pernah berpergian sendiri selama ini. ” Dia orang rumahan, dan tak pernah berpergian keluar rumah tanpa suaminya. Apalagi pergi hanya berdua bersama anak perempuannya, mana berani dia,” jelasnya, Rabu (28/3/2019).

Laporkan Saja ke Polisi
Sementara menurut ketua PWI Banten, Firdaus, apabila menemukan oknum wartawan yang menyebar isu hoax penyebaran berita bohong, atau dianggap merugikan seseorang dilaporkan pada kepolisian. “Saya sudah bicara dengan pihak polda Banten, untuk hal tersebut agar pihak polisi jangan takut menangkap wartawan yang dianggap melanggar profesi wartawan yang harus taat hukum dan kedepankan kode etik profesinya itu,” katanya via handphone, Rabu (28/3/2019)

Hal yang samapun dikatakan oleh pemerhati media Banten, Maryudi Sulistyo, bahwa itu merupakan pelanggaran kode etik dalam profesi Wartawan. “Karena wartawan harus konfirmasi dan klarifkasi langsung pada sumber berita, dan bukan kata orang lain di luar sumber berita. Tidak etis itu dan jelas melanggar kode etik sebagai profesi wartawan, “terangnya.

Lanjut Yudi, sekarang dasarnya darimana, dia menulis berita, sepihak ? ya sama saja bohong bukan wartawan namanya. “Itulah perlunya wartawan harus terdidik dengan benar dalam profesinya dengan landasan kerjanya, ya itu kode etik wartawan, bukan cenah atau katanya, kemudian langsung tayang berita begitu saja,” ungkap Yudi.

Berita Tanpa Konfirmasi dan Klarifikasi
Persoalan ketidak profesionalan oknum wartawan itu juga dikeluhkan oleh seorang Kades di wilayah Banten Selatan, HA atas ulah oknum wartawan online yang sama. Pasalnya, dia telah memberitakan tanpa adanya klarifikasi pada si sumber berita yang dia tuduhkan. “Lucunya berita tersebut, hanya karena dari aduan salah satu warga masyarakat, dan tanpa klarifikasi lagi pada sumber berita serta langsung tayang berita, ‘kan aneh wartawan model begitu,” herannya.

Kata HA, yang dia tahu selama ini wartawan itu selalu berprinsip azas praduga tidak bersalah pada setiap sumber berita yang dia dengar serta konfirmasi langsung. “Saya sedikit tahu lah tugas wartawan, karena sering ngobrol. Dan baru model wartawan begitu, tanpa konfirmasi dan klarifikasi kebenaran berita langsung tayang. dasar kode etik dia dimana sebagai wartawan? kalau begitu sama saja dia itu menyebarkan hoax alias kebohongan publik,” kesalnya.

Dia minta organisasi resmi wartawan yang ada di banten mampu mentertibkan semacam wartawan-wartawan yang selalu mencari-cari kesalahan orang lain dan tidak profesionalisme. “Kemudian seenaknya main tulis berita, wartawan ko’ mencari musuh, bukan pertemanan kalau begitu agar jaringannya luas,” tandasnya.

Sementara atas persoalan berita media online lokal Banten itu, dijelas oleh salah satu Dewan Redaksi di media Online tersebut, Ade Hajari, agar dilaporkan pada kepolisian setempat oleh pihak yang merasa dirugikan. “Yah laporkan saja, karena saya sudah ngomong pada wartawan bersangkutan tapi dia bersikkuh dengan pendiriannya, bahwa ada narasumbernya yang jelas,”Kata Ade hajari via Handphone.

Ketika disinggung terkait penulisan dan penayangan berita oleh wartawannya, tanpa adanya klarifikasi dan konfirmasi pada sumber berita, Ade Hajari mengaku tidak cukup tahu soal tersebut. “Kami te apal soal kadinya mah (Saya tidak tahu soal tersebut),” imbuhnya (*/Ist)

Tinggalkan Balasan

cinta-alam-hijau-e1444135113833