«

»

Agu 25

Panen Jagung, Banten Canangkan Ekspor Terbesar Di Dunia

LEBAK, – Kementerian Pertanian menargetkan Indonesia masuk negara eksportir jagung terbesar pada tahun 2020 setelah tidak mengimpor jagung pada 2017. “Kami terus meningkatkan produksi jagung dari tahun ke tahun juga komoditas pangan lain,” kata Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Bambang, saat panen perdana jagung di Desa Bulakan, Kecamatan Gunung Kencana, Kabupaten Lebak, beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan kementerian terus mengoptimalkan bantuan sektor pertanian dengan menyalurkan berbagai bantuan kepada kelompok-kelompok tani guna mendukung swasembada pangan. Pemerintah berkomitmen mewujudkan Indonesia berswasembada pangan dengan mengalokasikan dana cukup besar di sektor pertanian. Alokasi sektor pertanian sekira Rp 600 ribu miliar guna mendukung swasembada pangan, termasuk jagung. Kementerian menargetkan pengembangan tanaman jagung melalui program upaya khusus (upsus) di Provinsi Banten seluas 187.000 hektare pada 2017.

Gubernur Banten Wahidin Halim saat hadiri panen jagung di lebak

Dengan pengembangan tanaman jagung tersebut diharapkan Provinsi Banten bisa memenuhi permintaan pasar domestik. “Apalagi pemerintah telah menghentikan impor jagung, sehingga peluang besar untuk petani memacu dan memotivasi meningkatkan produksi jagung,” tambahnya. Produksi jagung 2016 sebanyak 23,5 juta ton, dan ditargetkan akhir 2017 mencapai 24,5 ton dengan melibatkan 67 juta kepala keluarga petani. Dengan peningkatan produksi jagung, pada 2020 nanti Indonesia diprediksi bisa menjadi negara ekportir terbesar di dunia.

Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan, pihaknya mengapresiasi pengembangan tanaman jagung yang digulirkan Kementan melalui program upsus, sehingga dapat meningkatkan swasembada pangan juga peningkatan ekonomi masyarakat. Namun, dirinya meminta Kementan serius melaksanakan program pengembangan jagung yang dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi petani. Wahidin juga berharap agar pengalaman tahun-tahun lalu tidak terulang, dimana terkadang program tidak berlanjut sehingga merugikan petani.

“Artinya, jangan sampai petani menanam jagung namun tidak ada yang menampung pemasarannya. Kami optimistis, Banten bisa memenuhi kebutuhan pangan untuk masyarakat DKI Jakarta, sehingga diharapkan pemerintah terus menyalurkan bantuan pertanian,” tandasnya.

Untuk diketahui, panen jagung perdana di Desa Bulakan, Kecamatan Gunung Kencana ini seluas 300 hektare dari 700 hektare angka tanam, dan mampu menghasilkan perdana produksi sebanyak 1.500 ton. Pemerintah Kabupaten Lebak terus berupaya meningkatkan produksi padi, jagung dan kedelai, juga beberapa komoditas unggulan lain dengan dukungan dari semua pihak terutama peran serta dari para petani di Kabupaten Lebak. Untuk komuditas padi setiap tahunnya mengalami peningkatkan luas panen rata-rata sebesar 5,64% dari 86,191 hektar pada tahun 2016, sedangkan untuk jagung selama 5 tahun terakhir rata-rata luas tanam jagung hanya mencapai 1.806 hektar setiap tahunnya sebagian besarnya dipanen muda.

Kabupaten Lebak memiliki keunggulan komparatif yang bisa dioptimalkan, di antaranya tersedianya potensi lahan yang luas, jarak yang dekat dengan pabrik pakan ternak, kebutuhan jagung yang semakin meningkat baik untuk bahan pangan maupun pakan dan Tersedianya sumber daya manusia yaitu para petani dan kelompok tani. “Pada tahun 2017 Kabupaten Lebak mendapat bantuan dari pemerintah pusat seluas 30.000 hektar untuk pengembangan jagung, di mana 700 hektar ditanam di Desa Bulakan, Kecamatan Gunung Kencana,” ungkap Bupati Lebak Iti Octavia. (*/Adv)

Tinggalkan Balasan

cinta-alam-hijau-e1444135113833