«

»

Sep 11

Pemberontak Rohingya Nyatakan Gencatan Senjata

Rakhine State, – Pemberontak Muslim Rohingya secara sepihak menyatakan gencatan senjata selama satu bulan dengan dalih mengurangi krisis kemanusiaan di negara bagian barat Myanmar, Rakhine State.

Kelompok milisi Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) atau Tentara Penyelamat Rohingya Arakan, mengatakan gencatan senjata dimulai hari Minggu (10/9) dan mendesak tentara Myanmar juga menurunkan senjata.

ARSA adalah kelompok yang menyerang sejumlah pos polisi pada 25 Agustus 2016. Aksi mereka memicu krisis di Rakhine dengan respons hebat dari militer sehingga menyebabkan sekitar 290.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyatakan kelompok-kelompok bantuan memerlukan secepatnya dana US$ 77 juta (sekitar Rp 1 triliun) untuk membantu para pengungsi Rohingya.

Pengungsi Ronghya di perbatasan Bangladesh tertahan tidak bisa masuk ke wilayah Bangladesh

Dana itu dibutuhkan untuk kebutuhan mendesak akan makanan, air, dan pelayanan kesehatan bagi kedatangan baru di kamp pengungsi Cox’s Bazaar, Bangladesh. Para penduduk Rohingya, yang tidak berkewarganegaraan, menuding militer dan para warga Buddha di Rakhine melakukan kampanye brutal dan membakar desa-desa mereka. Sebaliknya, Myanmar membantah hal tersebut dengan menyatakan melawan para teroris Rohingya.

“ARSA dengan ini menyatakan penghentian sementara serangan operasi militer,” kata kelompok militan itu lewat akun Twitter.

Kelompok itu juga mendesak semua aktor kemanusiaan untuk melanjutkan pengiriman bantuan kemanusiaan kepada semua korban krisis tersebut terlepas dari latar belakang etnis atau agamanya. Gencatan senjata akan berlangsung sampai 9 Oktober 2017.

Di pihak lain, Pemerintah Myanmar tampaknya menolak usulan itu. “Kami tidak punya kebijakan untuk berunding dengan teroris,” kata seorang juru bicara senior pemerintah, Zaw Htay, Sabtu (9/9).

Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, menerima banyak kecaman internasional terkait perlakuan militer terhadap Rohingya. Militer Myanmar baru-baru ini juga dituduh memakai ranjau mematikan untuk mencegah pengungsi Rohingya agar kembali ke Rakhine State.

Amnesti Internasional Indonesia lewat siaran pers, Sabtu lalu, menemukan tiga orang, dua diantaranya anak-anak, terluka parah, dan seorang meninggal akibat ranjau tersebut. Tim Respons Krisis Amnesti Internasional yang dipimpin Tirana Hassan saat ini berada di perbatasan Myanmar dan Bangaladesh untuk mengumpulkan bukti-bukti terkait pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhaap etnis Rohingya oleh tentara Myanmar.(BBC/AFP/SP)

Tinggalkan Balasan

cinta-alam-hijau-e1444135113833