«

»

Jul 21

PPDB Tahun 2017 Kisruh, Masyarakat Dirugikan oleh Sistem Ketidakjelasan !

TANGERANG, – PPDB Tahun 2017 era Menteri Muhadjir Effendi selalu sarat timbulkan gejolak persoalan yang dituding banyak merugikan semua pihak, baik masyarakat dan penyelenggara pendidikan itu sendiri. Sistem zonasi banyak dikeluhkan orangtua calon peserta didik baru, karena pada akhirnya tetap saja anaknya harus mencari sekolah diluar zonasi (lebih jauh dari tempat tinggalnya), karena anaknya tidak diterima disekolah sesuai zonasinya, dengan alasan sekolah sudah ‘full’karena ruang kelas penuh dan pembatasan rombel hanya 32-36 siswa dalam perkelasnya.

Adaya kekisruhan ini, dialami puluhan masyarakat orang tua siswa baru di wilayah Kecamatan Sepatan. Sehingga para orangtua siswa yang anaknya tidak diterima dalam pendaftaran penerimaan siswa baru (PPDB) tahun 2017 di SMKN 2 Kabupaten Tangerang, yang berada di Desa Pisangan Jaya, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, mendatangi SMKN 2 Kabupaten Tangerang untuk minta kejelasan yang tidak jelas, Jum’at (21/7/2017).

Kedatangan puluhan orang tua siswa tersebut, karena merasa kecewa terhadap pihak panitia penyelenggara PPDB sekolah di SMKN 2 Kab.Tangerang, lantaran anak-anaknya tidak masuk disekolah itu, padahal warga setempat dan sudah sesuai zonasi. Tapi anehnya, tidak bisa sekolah di tempat lingkungan kediamannya itu (satu kecamatan).

Orang tua wali siswa merasa jengkel karena sulitnya masuk sekolah tersebut, padahal para siswa yang telah mendaftar merupakan asli warga di Desa tersebut. Dan dengan aksi ini mereka berharap, putra-putri mereka diterima di Sekolah Menengah Kejuruan yang ada diwilayahnya itu.

Budi salah satu perwakilan orang tua siswa merasa kesal dengan pihak sekolah. “Kami ini kan tinggal disekitar sekolah, kenapa anak-anak kami tidak diterima. Sedangkan warga yang berdomisili jauh dari sekolah justru diterima bedirinya sekolah yang berada dilingkungan kami tentu untuk mencerdaskan anak anak warga terdekat terlebih dahulu karena bisa meringankan beban warga sekitar dalam menyekolahkan anak anaknya,” ungkap Budi dengan nada kesal.

Rakyat Semakin Sulit Masuk Sekolah
Adanya kejadian di Tangerang dan di beberapa wilayah lainnya di Indonesia, membuktikan bahwa pemerintah khususnya kementerian Pendidikan Indonesia dalam program nya selalu tidak ada kesiapan dalam pelaksanaannya (yakni, data tidak valid jumlah sekolah dan prakiraan jumlah calon peserta didik disetiap perkecamatan berdasarkan jumlah siswa sekolah tingkat SD dan SMP), padahal soal pendidikan sebagai hak dasar bagi manusia indonesia yang harus pintar dan cerdas adalah kewajiban pemerintah sesuai mukadimah dalam UUD 45. Bukannya makin dipersulit, rakyatnya untuk bisa bersekolah !

Sejumlah aktivis di Tangerang Pantura yang bersama warga setempat menyesalkan kericuhan PPDB di sekolah tersebut, dan selalu setiap penerimaan siswa baru selalu timbulkan kericuhan dimasyarakat. ”Karena sistem yang dibangun oleh pemerintah belum tidak tertata dengan baik. Maka bila sistem dan mekanisme sudah tertata dengan baik, pasti tidak akan terjadi keributan dimasyarakat umum dan warga sekitar sekolah yang banyak dirugikan,” kata salah satu aktivis setempat.

Semenatara menurut kepala sekolah SMKN 2 kab.Tangerang, Yunus.MT menjelaskan, apa yang telah di lakukan panitia sudah mengacu pada aturan pemerinatah dan pemerintah Provinsi Banten sesuai dengan sistem yang ada dan melihat daya tampung rombel atau ruang kelas yang ada,”terangnya.

“Kata Yunus, disekolahnya saat ini setiap jurusan, pihak sekolah menggunakan dua ruang kelas dengan daya tampung 36 siswa-siswi saja. “Yang sudah tertampung seluruhnya, sebanyak 720 siswa dan siswi dan itu sendiri ada 20 ruang kelas. Kami tambahkan sebelumnya 17 ruang kelas, dan dibagi delapan jurusan meski sesuai dengan permendiknas semuanya sebanyak 24 ruang kelas atau rombel ” ungkapnya.

Kata Yunus, bagaimana kami bisa menampung semuanya apabila ini sudah penuh semuanya. “Bila kami tambahkan kekurangan empat rombel atau ruang kelas, kami mau membuatkannya di mana ? sedangkan daya tampung yang ada sudah terpenuhi semuanya sesuai dengan sistem yang di lakukan oleh panitia,” kilahnya.

Meski ada keanehan, bila ditelusuri disetiap sekolah-sekolah dan masyarakat menuding bahwa pihak sekolah banyak menerima puluhan siswa dari luar zonasi yang telah ditentukannya (ada dugaan siswa titipan dari kalangan tertentu, yang dekat pejabat di UPT.SMA/SMK dan Kepseknya). Sehingga, korbankan kepentingan calon peserta didik yang sesuai zonasinya (warga setempat) sehingga tertolak dan tidak diterima di sekolah tersebut. Sangat Aneh dan patut dipertanyakan ??. (Jasep)

Tinggalkan Balasan

cinta-alam-hijau-e1444135113833