«

»

Nov 02

Sedimentasi dan Pencemaran Sungai, Aktivitas Nelayan Warga Desa Tengkurak ‘Lumpuh’

SERANG, – Akibat terjadi Sedimentasi atau pengendapan material batuan secara gravitasi yang terjadi didasar Muara Sungai Ciujung dan tingkat pencemaran limbah pabrik yang terjadi puluhan tahun, maka warga nelayan di Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang,Banten, harus cukup menderita yang berkepanjangan.

Berbagai kunjungan hingga janji-janji dari pemerintah setempat serta pemerintah pusat melalui kunjungan anggota DPR RI dari komisi IV beberapa waktu lalu, tak kunjung terlaksana untuk program pembangunan bagi masyarakat di Desa Tengkurak, khususnya mengembalikan kejayaan masyarakat nelayan asal desa tengkurak.

Hal ini diungkapkan oleh Azizi salah satu warga nelayan setempat,katanya dia dan warga nelayan yang lain kini hanya mencoba bertahan hidup dengan aktivitas serabutan setelah usaha bernelayan ‘mati suri’ akibat kondisi sungai Ciujung sudah sangat parah dalam sedimentasi tersebut. “Belum lagi soal pencemaran sungai kami ini pak, menambah parah kondisi suangai di ciujung tersebut,” katanya.

Banjir Rutin setiap tahun yang harus dialami warga desa tengkurak akibat sedimentasi sungai Ciujung. (Dok)


Selain itu katanya, perkampungannya setiap tahun kini sudah menjadi langganan banjir akibat pendangkalan sungai Ciujung. ” Kami pak, hanya tinggal menunggu janji dan janji saja dari pemerintah yang sampai saat ini belum juga dilakukan untuk program pengerukan sungai ciujung itu, bukan pembangunan tempat pelelangan ikan yang kami anggap mubajir karena saat ini tidak ada manfaat karena sepi nelayan dari hasil melaut” tuturnya.

Mendorong Segera Dilakukan Pengerukan

Sementara ditempat terpisah, Kepala Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang,Banten, Suryadi mengatakan, pihaknya sudah berupaya melakukan pengaduan surat serta aksi agar nasib warganya yang mayoritas nelayan bisa normal kembali untuk usaha nelayannya yang sudah secara turun temurun. ” Kami sudah berupaya untuk membangkitkan rasa peduli dari pemerintah terkait kondisi sungai ciujung yang ada di wilayah kami. Bahkan mendorong agar pemerintah melakukan pengerukan lumpur yang telah bercampur limbah di ciujung,” jelasnya.

Muara sungai Ciujung di Desa tengkurak, sudah tercemar limbah pabrik yang ada disekitar bantaran Sungai , ikan sungaipun punah sudah. (Dok)


Tetapi kata Suryadi, dalam melakukan program proyek pengerukan tersebut agar masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat yang di desanya untuk diajak musyawarah serta dlibatkan agar ada saling manfaat dan membantu. ” Harapannya, agar kami tahu program tersebut bisa terlaksana dengan baik serta tidak meninggalkan dampak lain bagi warga desa dari pelaksanaan pengerukan tersebut,” ungkapnya.

Kemarin lanjut Suryadi, ada kunjungan dari Komisi IV DPR RI ke desanya. ” Akan tetapi hanya menanyakan soal kondisi warga serta soal usaha saja. Dan kami pun ungkapkan soal kondisi sungai ciujung tersebut, tapi yah begitu juga sampai saat ini tidak ada tindaklanjutnya,” terangnya.

Hal ini juga diungkapkan oleh kelompok aktivis lingkungan ‘Bala Daun’, bahwa persoalan nasib masyarakat nelayan di Desa Tengkurak adalah sebuah ‘PR’ yang tidak tuntas dalam pembangunan lingkungan dan memanusiakan manusia yang ada di Desa Tengkurak. “Mereka (warga nelayan) sudah lama menderita dari kondisi sungai ciujung akibat sedimentasi dan pencemaran sungai oleh perusahaan-perusahaan yang membuang limbahnya,” ujar Mulyadie, Direktur Aktivis Lingkungan ‘Bala Daun’.

Kata Mulyadie, ia dan kawan-kawannya sedang mencoba untuk berbuat untuk masyarakat di Desa tengkurak dan mendorong pemerintah agar segera membuat program pembangunan dengan pengerukan sungai Ciujung. “Kami juga sarankan agar warga nelayan desa tengkurak, untuk mengadu ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yaitu ibu Susi Pudjiastuti soal nasibnya yang tidak bisa beraktivitas nelayan akibat sedimentasi disungai itu,”ucapnya.

Terkait soal itu juga ditambahkan oleh Sekretaris Aktivis Lingkungan ‘Bala Daun’, Linda, soal sedimentasi atau pendangkalan di Sungai Ciujung sudah cukup parah. ” Sayangnya pemerintah daerah belum juga membuat dan mengusulkan program pengerukan ke pemerintah pusat dalam hal ini ke kementerian pu di bidang Irjen sumber daya air,” terangnya.

Masyarakat Desa Tengkurak Menggugat soal kondisi sungai yang ada di wilayahnya (Dok.)


Akibatnya kata Linda, perekonomian masyarakat di Desa Tengkurak jauh dari kata makmur serta sejahtera. ” Bayangkan, akibat sedimentasi dan pencemaran sungai ciujung, masyarakat tidak bisa bernelayan dan ditambah lagi apabila di musim penghujan desanya itu harus kebanjiran bercampur limbah pabrik. Mereka sudah lama menderita akibat kondisi itu,” jelas Linda.

Jalan satu-satunya tambah Linda, adalah secepatnya dilakukan pengerukan di Sungai Ciujung khususnya di sekitaran muara sungai di Desa Tengkurak. ” Agar masyarakat disana bisa normal kembali dalam aktivitas nelayannya, serta perekonomian masyarakat terangkat dengan sendirinya. Intinya, muara sungai di desa tengkurak bisa berjaya kembali, seperti dahulu sebagai pusat nelayan dari hasil tangkapan ikan laut, serta sungai bisa dilalui oleh perahu besar nelayan seperti dahulu,” imbuhnya. (*/Ist)

Tinggalkan Balasan

cinta-alam-hijau-e1444135113833