«

»

Sep 23

Serangan dari Milisi Rohingya untuk Provokasi Militer Myanmar

KUALA LUMPUR, – Serangan milisi Rohingya yang menamakan diri sebagai Tentara Penyelamat Arakan Rohingya (Arakan Rohingya Salvation Army/ARSA) pimpinan Attullah Abu Amar Jununi, dinilai sebagai upaya untuk memprovokasi militer. Berdasarkan Profesor Zachary Abuza dari National War College, Washington DC, serangan ARSA dimaksudkan untuk memancing respons berat demi mendapatkan perhatian internasional dan simpati yang pada gilirannya membantu perekrutan dan pengadaan senjata.

“ARSA meluncurkan serangan itu dengan mengetahui sepenuhnya bahwa militer akan merespons dengan operasi pembersihan dan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan,” kata Abuza lewat laporannya seperti dilaporkan Channel News Asia di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (22/9).

Menurutnya, hanya orang-orang siap kalah yang bersedia melawan rintangan dan bergabung dengan kelompok yang didanai untuk melawan militer Myanmar.

“Kebijakan kasar pemerintah selanjutnya mendorong rekrutmen ARSA. Ini adalah ramalan ekstremis yang terpenuhi sendiri,” lanjut Abuza yang memiliki spesialisasi dalam pemberontakan dan kelompok milisi di Asia Tenggara.

Pengungsi Ronghya di perbatasan Bangladesh tertahan tidak bisa masuk ke wilayah Bangladesh

Selama bertahun-tahun etnis minoritas Rohingya di Myanmar menghindari kekerasan, melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh dan negara Asia Tenggara lainnya setiap kali militer negara itu mengancam mereka. Sampai Oktober 2016, sebuah kelompok rakyat bersenjata bernama Harakah Al-Yaqin (HAY) atau Gerakan Iman, melakukan dua kali serangan ke pos polisi di Rakhine State, Myanmar, sehingga menewaskan sembilan polisi dan melarikan diri dengan 62 senjata api.

“Mereka (Rohingya) sangat sabar dalam menghadapi situasi ketidakadilan. Mereka tidak pernah menggunakan senjata untuk waktu lama, sampai Oktober tahun lalu,” kata ilmuwan politik selaku presiden Gerakan Internasional untuk Dunia yang Adil (JUST) di Kuala Lumpur, Chandra Muzaffar.

Gerakan Sejak Lama

Chandra mengatakan kelompok minoritas lain seperti suku Karen dan Kachin sejak lama mengangkat senjata melawan pemerintah. Suku Karen yang tinggal di perbatasan Myanar dan Thailand, telah berjuang untuk merdeka sejak 1949. Sedangkan, suku Kachin berjuang sejak 1961. Kedua kelompok itu menandatangani gencatan senjata yang sering kali dilanggar.

dinilai sebagai upaya untuk memprovokasi militer. Berdasarkan Profesor Zachary Abuza dari National War College, Washington DC, serangan ARSA dimaksudkan untuk memancing respons berat demi mendapatkan perhatian internasional dan simpati yang pada gilirannya membantu perekrutan dan pengadaan senjata.

“ARSA meluncurkan serangan itu dengan mengetahui sepenuhnya bahwa militer akan merespons dengan operasi pembersihan dan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan,” kata Abuza lewat laporannya seperti dilaporkan Channel News Asia di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (22/9).

Menurutnya, hanya orang-orang siap kalah yang bersedia melawan rintangan dan bergabung dengan kelompok yang didanai untuk melawan militer Myanmar.

“Kebijakan kasar pemerintah selanjutnya mendorong rekrutmen ARSA. Ini adalah ramalan ekstremis yang terpenuhi sendiri,” lanjut Abuza yang memiliki spesialisasi dalam pemberontakan dan kelompok milisi di Asia Tenggara.

Selama bertahun-tahun etnis minoritas Rohingya di Myanmar menghindari kekerasan, melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh dan negara Asia Tenggara lainnya setiap kali militer negara itu mengancam mereka. Sampai Oktober 2016, sebuah kelompok rakyat bersenjata bernama Harakah Al-Yaqin (HAY) atau Gerakan Iman, melakukan dua kali serangan ke pos polisi di Rakhine State, Myanmar, sehingga menewaskan sembilan polisi dan melarikan diri dengan 62 senjata api.

“Mereka (Rohingya) sangat sabar dalam menghadapi situasi ketidakadilan. Mereka tidak pernah menggunakan senjata untuk waktu lama, sampai Oktober tahun lalu,” kata ilmuwan politik selaku presiden Gerakan Internasional untuk Dunia yang Adil (JUST) di Kuala Lumpur, Chandra Muzaffar.

Chandra mengatakan kelompok minoritas lain seperti suku Karen dan Kachin sejak lama mengangkat senjata melawan pemerintah. Suku Karen yang tinggal di perbatasan Myanar dan Thailand, telah berjuang untuk merdeka sejak 1949. Sedangkan, suku Kachin berjuang sejak 1961. Kedua kelompok itu menandatangani gencatan senjata yang sering kali dilanggar.(CNA/SP/Ist)

Tinggalkan Balasan

cinta-alam-hijau-e1444135113833