«

»

Agu 23

Untuk Hormati Kanselir, Bayi Pengungsi Suriah Dinamai Merkel

JERMAN, – Kebijakan terbuka pintu Jerman dan Uni Eropa menyambut para pengungsi memang memicu pro-kontra. Tapi bagi satu keluarga asal Suriah, kebijakan itu merupakan satu-satunya harapan hidup dari neraka perang. Nama Merkel pun, harum dan dikagumi di kalangan para pengungsi.

Sebuah keluarga Suriah di Jerman telah menamai bayi mereka yang baru lahir dengan nama lengkap Angela Merkel Mohammed. Penamaan ini dilakukan untuk menghormati sang kanselir itu yang menyambut pengungsi dengan tangan terbuka.

Bayi perempuan itu lahir pada tanggal 16 Agustus 2017, dari ibu bernama Asia Faray dan ayah bernama Khalid Mohammed, di Rumah Sakit St. Franziskus, Kota Münster, Jerman barat. Pihak rumah sakit pun mengumumkan kabar gembira itu di halaman Facebook-nya.

“Angela Merkel Mohammed tidur nyenyak di lengan ibunya dan tidak terganggu hiruk-pikuk nama depannya. Hanya dalam beberapa tahun saja dia mungkin mengerti, bahwa nama panggilannya sama dengan kepala pemerintahan sekarang,” tulis surat itu.

“Nama pertama dari gadis itu adalah Angela, yang kedua adalah Merkel. Dengan keputusan ini, orangtua ingin menunjukkan rasa terima kasih mereka kepada kanselir tersebut,” bunyi laporan Reuters yang mengutip juru bicara rumah sakit.

Orangtua bayi Angela tiba di Jerman, bersama empat saudara kandungnya, pada puncak krisis pengungsi pada tahun 2015. Waktu itu, Merkel membuka perbatasan negara tersebut untuk para migran yang melarikan diri dari negara-negara yang dilanda perang seperti Suriah dan Irak.

Penamaan bayi dengan nama Merkel ini memang bukan yang pertama. Terakhir ini, ada bayi perempuan yang juga diberi nama seperti sang kanselir. Pada tahun 2015, Angela Merkel Ade lahir dari ibu asal Ghana di kota utara Hannover.

Kebijakan pengungsi pemerintahan Kanselir Merkel telah menimbulkan respons beragam mulai dari pujian hingga kecaman. Bahkan kebijakan itu membuat rating Merkel menurun dan partai AfD sayap kanan mulai menuai popularitas. Kedatangan para pengungsi memberi momentum kepada kelompok anti-imigran seperti Pegida, yang melakukan demonstrasi di seluruh Jerman dan negara-negara Eropa lainnya.

Serangan Tahun Baru 2015 yang terkenal di Cologne, memicu kekhawatiran. Ada lebih dari 1.200 orang melaporkan penyerangan seksual atau perampasan yang dilakukan kelompok migran. Laporan ini pun membuat sikap masyarakat Jerman terpolarisasi.

Sejumlah serangan publik yang dilakukan oleh pencari suaka dari Timur Tengah juga mendapat sorotan media.

Peringkat Merkel baru-baru ini mendapat giliran yang lebih baik menjelang pemilihan 24 September karena Berlin melanjutkan deportasi pencari suaka yang ditolak ke Yunani.

Statistik terakhir menunjukkan, pada tahun 2016 sekitar 18,6 juta orang di Jerman atau 22,5% dari total populasi, ternyata memiliki latar belakang migran.(*/RT/SP)

Tinggalkan Balasan

cinta-alam-hijau-e1444135113833